«

»

Apr 01

Contoh Proposal Penelitian Aplikasi Inventory Control dengan Metode Eqonomic Order Quantity (EOQ) Multiproduk pada PT. Etunas Sukses Sistem

EtunasTerkadang persediaan sangat mempengaruhi kemajuan dari perusahaan, pada saat perusahaan tidak dapat memenuhi kebutuhan pelanggan maka pelanggan akan pindah ke perusahaan lain tapi pada saat perusahaan memberikan stok berlebih akan mengakibatkan tingginya biaya pemeliharaan, untuk itulah berikut ini bahasan tentang Contoh Proposal Penelitian Aplikasi Inventory Control dengan Metode Eqonomic Order Quantity (EOQ)  Multiproduk pada PT. Etunas Sukses Sistem

A.    LATAR BELAKANG

Perkembangan informasi teknologi sangat pesat bahkan di pelosok-pelosok yang dulunya belum merasakan teknologi pun sekarang bisa menikmati layanan informasi teknologi scara online.  Teknologi Informasi muncul sebagai akibat semakin merebaknya globalisasi dalam kehidupan organisasi, semakin kerasnya persaingan bisnis, semakin singkatnya siklus hidup barang dan jasa yang ditawarkan, serta meningkatnya tuntutan selera konsumen terhadap produk dan jasa yang ditawarkan. Untuk mengantisipasi semua ini, perusahaan mencari terobosan baru dengan memanfaatkan teknologi. Teknologi diharapkan dapat menjadi fasilitator dan interpreter. Semula teknologi informasi digunakan hanya terbatas pada pemrosesan data. Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi tersebut, hampir semua aktivitas organisasi saat ini telah dimasuki oleh aplikasi dan otomatisasi teknologi informasi.

Salah satu teknologi informasi yang tidak kalah pentingnya adalah pemakaian Electronic Data Interchange (EDI). EDI adalah komunikasi antar komputer dengan tujuan meningkatkan efektivitas dan mengurangi pekerjaan yang sifatnya klerikal. Hansen dan Hill (1989) mendefinisikan EDI sebagai pergerakan dokumen bisnis dalam format terstruktur antara berbagai patner bisnis dalam suatu organisasi. Dengan EDI, dokumen yang diterima dapat memerintahkan komputer secara otomatis. EDI yang terintegrasi memberikan peluang pada manajer untuk berkonsentrasi penuh pada pengambilan keputusan strategik dan meningkatkan kemampuan dalam pengendalian beberapa aktivitas.

Teknologi akan terus berkembang. Teknologi informasi yang kuat akan menjadi competitive edge bagi perusahaan dan sekaligus menjadi entry barrier (Fasio, 1994). Bagi organisasi yang ingin maju dan berkembang, tidak ada alasan untuk tidak menggunakan teknologi sepanjang hal itu dapat mempermudah perusahaan menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Hanscombe, 1989).

Perusahaan yang sudah mapan dan maju biasanya sudah bisa mengatur manajemen persediaan untuk menunjang barang dan jasa yang mereka jual kepada perusahaan. Kadang jika perusahaan itu tidak bisa mengatur persediaannya entah itu produk mereka sendiri atau barang setengah jadi dan barang mentah kadang juga bisa menghambat proses dari pembuatan barang tersebut atau kadang juga bisa menghambat pelaksanaan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan.

Mengendalikan persediaan atau inventory management yang tepat bukanlah hal yang mudah. Apabila jumlah persediaan terlalu besar mengakibatkan timbulnya dana yang dikeluarkan terlalu besar, meningkatnya biaya penyimpanan (seperti biaya pegawai, Biaya operasional pabrik, biaya gedung, dll) dan resiko kerusakan barang yang lebih besar. Namun bila persediaan terlalu sedikit mengakibatkan resiko terjadinya kekurangan persediaan (stock out) karena seringkali barang persediaan tidak dapat didatangkan secara mendadak yang menyatakan terhentinya proses produksi, tertundanya keuntungan, bahkan hilangnya pelanggan.

Dari uraian tersebut maka diperlukan sebuah aplikasi inventory control untuk mengatur persediaan sebuah perusahaan dengan produk yang bermacam-macam(multiproduk).

 B.    PERUMUSAN MASALAH

Sesuai dengan latar belakang yang telah dijelaskan, maka akan diuraikan pokok-pokok masalah yang akan dikaji dalam tesis ini adalah sebagai berikut :

  1. Bagaimana mengatur  jumlah persediaan ideal sehingga persediaan barang tetap terjaga tidak serlalu besar dan tidak kekuarangan?
  2. Bagaimana jumlah persediaan berbagai jenis produk serta rencana pembelian kembali direncanakan dan diatur secara otomatis oleh sistem?
  3. Bagaimana menerapkan metode eqonomic order quantity untuk menghasilkan jumlah persediaan secara online dan realtime?

C.    TUJUAN PENELITIAN

Berdasarkan masalah tersebut diatas, maka penelitian bertujuan :

  1. Mendapatkan jumlah ideal seluruh barang persediaan.
  2. Memberikan DSS (decision support system) jumlah persediaan dan waktu pemesanan kembali kepada perusahaan secara otomatis setelah waktu yang ditentukan.
  3. Menerapkan Model Eqonomic Order quantity untuk menghitung jumlah persediaan.

 D.    MANFAAT PENELITIAN

Manfaat penelitian ini adalah :

  1. Perusahaan mengetahui jumlah ideal persediaan barang yang harus disimpan di gudang tanpa harus takut kekurangan ataupun kelebihan persediaan.
  2. Perusahaan dapat memperoleh informasi persediaan barang secara online.
  3. Menghasilkan informasi tentang transaksi secara online yang berupa jenis barang yang paling laku dipasaran, waktu transaksi yang paling sering, user yang paling sering transaksi serta pelanggan yang sering bertransaksi.

 E.    LANDASAN TEORI

Untuk memperjelas pemahaman serta dasar dari penelitian ini maka penulis memaparkan landasan teori yang menjadi dasar dalam penyusunan penelitian ini.

1.     Inventory Control

Salah satu fungsi manajerial yang sangat penting dalam operasional suatu perusahaan adalah  pengendalian persediaan (inventory controll), karena kebijakan persediaan secara fisik akan berkaitan dengan investasi dalam aktiva lancar di satu sisi dan pelayanan kepada pelanggan di sisi lain. Pengaturan persediaan ini berpengaruh terhadap semua fungsi bisnis ( operation, marketing, dan finance). Berkaitan dengan persediaan ini terdapat konflik kepentingan diantara fungsi bisnis tersebut. Finance menghendaki tingkat persediaan yang rendah, sedangkan Marketing dan operasi menginginkan tingkat persediaan yang tinggi agar kebutuhan konsumen dan kebutuhan produksi dapat dipenuhi.

Berkaitan dengan kondisi di atas, maka perlu ada pengaturan terhadap jumlah persediaan, baik bahan-bahan maupun produk jadi, sehingga kebutuhan proses produksi maupun kebutuhan pelanggan dapat dipenuhi. Tujuan utama dari pengendalian persediaan  adalah agar perusahaan selalu mempunyai persediaan dalam jumlah yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dalam spesifikasi atau mutu yang telah ditentukan sehingga kontinuitas usaha dapat terjamin (tidak terganggu).

Usaha untuk mencapai tujuan tersebut tidak terlepas dari prinsip-prinsip ekonomi, yaitu jangan sampai biaya-biaya yang dikeluarkan terlalu tinggi. Baik persediaan yang terlalu banyak, maupun terlalu sedikit akan minimbulkan membengkaknya biaya persediaan. Jika persediaan terlalu banyak, maka akan timbul biaya-biaya yang disebut carrying cost, yaitu biaya-biaya yang terjadi karena  perusahaan memiliki persediaan yang banyak, seperti : biaya yang tertanam dalam persediaan, biaya modal (termasuk biaya kesempatan pendapatan atas dana yang tertanam dalam persediaan), sewa gudang,  biaya administrasi pergudangan, gaji pegawai pergudangan, biaya asuransi, biaya pemeliharaan persediaan, biaya kerusakan/kehilangan,

Begitu juga apabila persediaan terlalu sedikit akan menimbulkan biaya akibat kekurangan persediaan yang biasa disebut stock out cost seperti : mahalnya harga karena membeli dalam partai kecil, terganggunya proses produksi, tidak tersedianya produk jadi untuk pelanggan.Jika tidak memiliki persediaan produk jadi terdapat 3 kemungkinan, yaitu : 1). Konsumen menangguhkan pembelian (jika kebutuhannya tidak mendesak). Hal ini akan mengakibatkan tertundanya kesempatan memperoleh keuntungan. 2). Konsumen membeli dari pesaing, dan kembali ke perusahaan (jika kebutuhan mendesak dan masih setia). Hal ini akan menimbulkan kehilangan kesempatan memperoleh keuntungan selama persediaan tidak ada. 3). Yang terparah jika pelanggan membeli dari pesaing dan terus pindah menjadi pelanggan pesaing, artinya kita kehilangan konsumen.

Selain biaya di atas dikenal juga biaya pemesanan (ordering cost) yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan pemesanan sejak penempatan pesanan sampai tersedianya bahan/barang di gudang. Biaya-biaya tersebut antara lain : biaya telepon, biaya surat menyurat, biaya adminisrasi dan penempatan pesanan, biaya pemilihan pemasok, biaya pengangkutan dan bongkar muat, biaya penerimaan dan pemeriksaan bahan/barang.

Inventory Control adalah aktivitas mempertahankan jumlah persediaan pada tingkat yang dikehendaki. Pada produk barang, pengendalian persediaan ditekankan pada pengendalian material. Pada produk jasa, pengendalian diutamakan sedikit pada material dan banyak pada jasa pasokan karena konsumsi sering kali bersamaan dengan pengadaan jasa sehingga tidak memerlukan persediaan.

Alasan mengapa persediaan perlu dikendalikan karena Persediaan merupakan investasi yang membutuhkan modal besar, Mempengaruhi pelayanan ke pelanggan dan mempunyai pengaruh pada fungsi operasi, pemasaran, dan fungsi keuangan.

Jenis persediaan dibagi menjadi 2 jenis yaitu Persediaan barang jadi yang biasanya tergantung pada permintaan pasar (independent demand inventory) dan Persediaan barang setengah jadi dan bahan mentah ditentukan oleh tuntutan proses produksi dan bukan pada keinginan pasar (dependent demand inventory).

Aliran material persediaan dapat dideskripsikan dengan gambar berikut :

Etunas Design Sistem Informasi Aliran Material

Kapasitas merupakan kemampuan untuk menghasilkan produk sedangkan persediaan barang adalah semua persediaan material yang ditempatkan di sepanjang jaringan proses produksi dan jalur distribusi.

Tujuan dari persediaan adalah :

  1. Menghilangkan pengaruh ketidakpastian (mis: safety stock)
  2. Memberi waktu luang untuk pengelolaan produksi dan pembelian
  3. Untuk mengantisipasi perubahan pada permintaan dan penawaran.
  4. Menghilangkan/mengurangi  risiko keterlambatan pengiriman bahan
  5. Menyesuaikan dengan jadwal produksi
  6. Menghilangkan/mengurangi resiko kenaikan harga
  7. Menjaga persediaan bahan yang dihasilkan secara musiman
  8. Mengantisipasi permintaan yang dapat diramalkan.
  9. Mendapatkan keuntungan dari quantity discount
  10. Komitmen terhadap pelanggan.

Hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam persediaan adalah

  1. Struktur biaya persediaan.
  1. Biaya per unit (item cost)
  2. Biaya penyiapan pemesanan (ordering cost)

-        Biaya pembuatan perintah pembelian (purchasing order)

-        Biaya pengiriman pemesanan

-        Biaya transportasi

-        Biaya penerimaan (Receiving cost)

-        Jika diproduksi sendiri maka akan ada biaya penyiapan (set up cost): surat menyurat dan biaya untuk menyiapkan perlengkapan dan peralatan.

  1. Biaya pengelolaan persediaan (Carrying cost)

-        Biaya yang dinyatakan dan dihitung sebesar peluang yang hilang apabila nilai persediaan digunakan untuk investasi (Cost of capital).

-        Biaya yang meliputi biaya gudang, asuransi, dan pajak (Cost of storage). Biaya ini berubah sesuai dengan nilai persediaan.

  1. Biaya resiko kerusakan dan kehilangan (Cost of obsolescence, deterioration and loss).
  2. Biaya akibat kehabisan persediaan (Stockout cost)
  3. Penentuan berapa besar dan kapan pemesanan harus dilakukan.

 

1.     Model Eqonomic Order Quantity

Economic Order Quantity – yang biasa disingkat EOQ – adalah sejumlah produk yang harus dipesan untuk memenuhi persediaan. Tentunya sejumlah produk yang dipesan ini harus memenuhi suatu nilai yang ekonomis. EOQ harus dapat meminimasi biaya variabel. Yang termasuk dalam biaya variabel dalam kasus ini adalah biaya penyimpanan dan biaya pemesanan.

Dapat kita bayangkan bahwa jika jumlah pemesanan unit produk melebihi jumlah pemesanan yang ekonomis, hal ini akan membuat biaya penyimpanan menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan biaya persediaan dari jumlah pemesanan yang ekonomis. Selain itu, bila jumlah pemesanan unit produk kurang dari jumlah pemesanan yang ekonomis, maka biaya pemesanan akan lebih besar dibandingkan dengan biaya pemesanan dari jumlah pemesanan yang ekonomis. Hal ini disebabkan karena perusahaan harus memesan produk berkali-kali dengan biaya pemesanan yang dilipatgandakan.

Biaya penyimpanan meliputi biaya sewa gudang, biaya listrik, pajak, asuransi, dan lain-lain. Sedangkan biaya pemesanan dapat meliputi biaya antar barang dari tempat pemesanan ke gudang, biaya pemeriksaaan, biaya penanganan material, dan lain-lain. Dalam model EOQ, biaya ini dihitung secara tahunan.

Komponen lain yang termasuk dalam model EOQ adalah titik pemesanan kembali (reorder point). Reorder point adalah suatu titik (sejumlah item tertentu) di mana perusahaan harus memesan kembali. Reorder Point bergantung pada lead time, yaitu waktu yang diperlukan perusahaan untuk memenuhi pemesanan. Jadi, model EOQ juga harus dapat menjawab pertanyaan berapa banyak dan kapan item yang harus dipesan agar tercapai nilai yang ekonomis.

Secara umum model perhitungan (rumus) EOQ adalah sebagai berikut.

 

Keterangan :

Q* = nilai EOQ (unit)

C = biaya pemesanan per pesanan

R = permintaan per tahun (unit)

h = biaya penyimpanan

 

Contoh Soal 1:

Perusahaan purchases 8000 units of a product each year at cost of $10. The order cost is $30 per order, and holding cost per unit per year is $3. What are the economic order quantity?

 

Penyelesaian :


Untuk menghitung banyaknya pesanan selama setahun adalah sebagai berikut.

Keterangan :
m = banyaknya pesanan selama setahun (pesanan per tahun)
Total biaya untukhu EOQ per tahun:

Keterangan :
TC(Q*) = total biaya EOQ per tahun
P = purchase of an item

Reorder Point:
Bila L dinyatakan dalam bulan:

 

Bila L dinyatakan dalam minggu:
Keterangan :
B =  Reorder Point (unit)

L = Lead Time (month/week)

Contoh Soal 2 :
Pada Contoh Soal 1, berapa total biaya untuk EOQ per tahun, banyak pesanan yang harus dipesan selama setahun, dan reorder point bila lead time-nya adalah dua minggu?

Penyelesaian 2 :
total biaya untuk EOQ per tahun (dalam $):
banyak pesanan yang harus dipesan selama setahun:

reorder point (unit):

 

3.     Simulasi Model Eqonomic Order Quantity

Persediaan merupakan suatu masalah yang kompleks dan penting untuk perusahaan karena menyangkut masalah- masalah optimasi dengan model kuantitatif sehingga diperlukan teknik-teknik perhitungan tersendiri. Untuk menyelesaikan masalah ini digunakan metode kuantitatif. Manajer perlu mengambil keputusan dan menentukan tingkat persediaan optimal. Pada suatu perusahaan persediaan merupakan bagian dari porsi yang tercantum dalam neraca perusahaan. Jika persediaan terlalu besar dan terlalu kecilakan menimbulkan suatu masalah. Kekurangan persediaan bahanmentah akan menyebabkan terhambatnya proses produksi sehingga akan menyebabkan kekurangan persediaan barang yang akan mengakibatkan kekecewaan bagi konsumen (pelanggan). Dilain pihak kelebihan persediaanakan menimbulkan biaya ekstra dan resiko sehingga diperlukan bagaimana cara menangani persediaan yang efektif yang dapatmemberikan sumbangan berarti bagi keuntungan perusahaan.

Fungsi utama pengendalian persediaan adalah menyimpan untuk melayani kebutuhan perusahaan akan bahan mentah/bahan jadi dari waktu ke waktu. Fungsi ini ditentukan oleh berbagai kondisi seperti :

-        Bila jangka waktu pengiriman bahan mentah relative lama, maka perusahaan memerlukan persediaan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan perusahaan sehingga selama jangka waktu pengiriman. Untuk perusahaan dagang barang harus cukup untuk melayani permintaan konsumen selama jangka waktu pengiriman barang dari supplier/produsen.

-        Umumnya jumlah yang dibeli atau diproduksi lebih besar dari yang dibutuhkan karena membeli/memproduksi dalam jumlah besar lebih ekonomis oleh karenanya sebagian barang yang belum digunakan disimpan sebagai persediaan.

-        Bila permintaan bersifat musiman, sedangkan tingkat produksi adalah kosntan maka perusahaan dapat membuat tingkat persediaan yang berfluktuatif mengikuti fluktuatif permintaan.

Contoh :

Permintaan sepeda anak pada saat kenaikan kelas sedangkan tingkat produksi yang konstan lebih disukai oleh produsen karena tidak memerlukan extra cost (biayatambahan) dan biaya produksi yang berfluktuatif umumnya akan lebih besar dari pada biaya biaya penyimpanan barang  digudang.

-        Selain untuk memenuhi permintaan konsumen persediaan juga diperlukan bila biaya untuk mencari barang/bahan pengganti/biaya kehabisan stok(stock out cost) relative besar.

Berikut ini gambaran tentang Inventory Control

-        Semakin banyak barang semakin murah biaya pemesanan

-        Semakin banyak barang semakin tinggi biaya pemeliharaan

-        Semakin banyak barang semakin tinggi resiko

-        Semakin sedikit barang semakin mahal biaya pemesanan

-        Semakin sedikit barang semakinsedikitbiayapemeliharaan

-        Semakinsedikitbarangsemakintinggiresikokekuranganpersediaan.

Komponen Biaya

Tujuan yang akan dicapai dari inventory persediaan adalah mengendalikan tingkat persediaan agar selalu cukup tidak kurang dan tidak lebih. Berikut komponen-komponen biaya persediaan :

  1. Ordering Cost dan Procurement Cost

Ordering cost dan procurement cost adalah total biaya pemesanan dan pengadaan sehingga siap untuk digunakan. Biaya ini mencakup biaya pengangkutan, pengumpulan, pemilikan, penyusunan dan penempatan di gudang sampai hal-hal yang termasuk biaya manajerial dan clerical yang berhubungan dengan pemesanan. Biasanya untuk membedakannya adalah bahwa biaya pemesanan termasuk kedalam fixed cost tidak tergantung pada jumlah barang yang dipesansedangkanprocurement costadalahvariable cost.

  1. Holding CostdanCarrying Cost

Holding cost atau carrying cost timbul karena perusahaan menyimpan persediaan, biaya ini merupakan biaya penyimpanan (secara fisik) disamping pajak dana asuransi barang yang disimpan. Elemen yang penting dimana merupakan proporsi yang besar dari biaya adalah opportunity cost dimana ada dana yang tertahan dalam hal ini dimana akan lebih menguntungkan bila digunakan untuk kebutuhan lainnya. Opportunity cost bergantung pada berapa jumlah barang yang disimpan dan berapa lama.

  1. Storage Cost

Storage cost timbul apabila ada permintaan tetapi barangnya tidak tersedia, untuk barang-barang tertentu pembeli diminta untuk menunda pembeliannya atau menunggu. Storage cost muncul yaitu biaya ekstra untuk membuat lagi barang yang dipesan juga berkurangnya good will konsumen, apabila pesanannya terlambat untuk dipenuhi.

Tetapi untuk bahan kebutuhan sehari-hari konsumen tidak dapat diminta untuk menunda pembeliannya atau diminta untuk back order. Disini perusahaan akan kehilangan langganan karena konsumen akan mencarit empat lain.

Dalam masalah persediaan bahwa biaya-biaya yang dikeluarkan adalah biaya-biaya yang relevan yakni seluruh biaya yang timbul sehubungan dengan persediaan.

Model Economic Order Quantity persediaan ini mengandung ciri-ciri :

-        Barang (bahan mentah) yang dipesan dan disimpan hanya satu macam sehingga dalam simulasi ini akan dilakukan satu persatu untuk setiap barang secara otomatis.

-        Kebutuhan atau permintaannya per periode diketahui (tertentu).

-        Barang (bahanmentah) yang dipesan segera dapat dipenuhi dan tidak ada back order.

Parameter yang digunakandalam model economic order quantity adalah

K = ordering cost per pesanan

A = jumlah barang yang dibutuhkan dalam satu periode( misal 1 tahun)

C = Procurement cost per unit barang yang dipesan

h = holding cost per satuan nilai persediaan.

T = waktu antara satu pesanan dengan lainnya.

Q = Economic order quantity (EOQ)

Secara grafis model persediaan ini sebagai berikut :

(model persediaan sederhana)

Keterangan :

Sejumlah Q unit barang yang dipesan secara periodik. Order point merupakan saat siklus persediaan (inventory circle) dimana akan dimulai lagi jika yang lama berakhir karena barang-barang yang dipesan segera dapat tersedia setiap siklus persediaan mempunyai periode waktu selama T yang mana pemesanan kembali T tergantung pada Q. lamanya T tergantung proporsi kebutuhan selama satu periode (A) yang dapat dipenuhi oleh Q jadi

Sehingga slope A dapat dipakai sebagai penunjuk jumlah persediaan dari waktu ke waktu dengan melihat garis-garis lurus yang memiliki slope tersebut tersebut karena barang yang dipesan diasumsikan segera tersedia, maka setiap m siklus dapat dilukiskan dalam bentuk segitiga dengan tinggi Q dan alas T.

Tujuan model ini adalah untuk menentukan jumlah setiap kali pesanan sehingga total annual cost dapat dimininumkan.

Ordering Cost = (Ak)/Q

Holding Cost = hc

Procurement Cost = AC

Total Annual Cost = Ordering Cost Holding Cost + Procurement Cost

Total Annual Cost (TC) = (Ak)/Q + hCQ/2 + AC

Tujuan model ini adalah untuk memilih Q yang mengandung semua biaya di atas dengan serendah-rendahnya. Tetapi yang perlu diperhatikan hanyalah biaya yang relevan saja. Biaya yang ketiga yaitu AC dapat diabaikan karena biaya tersebut tanpa tergantung pada frekwensipemesanan.Karenaitupersediaanmenjadi :

Minimumkan(TC) =Ak/Q + hcQ/2

Dengan TC adalah total biaya yang relevanatau total relevan annual cost.

Dalam mencari persamaan optimal ini persamaan TC merupakan fungsi tujuan dimana besarnya TC merupakan fungsi tujuan yang besarnya tergantung pada besarnya order quantity atau Q yang dipilih TC dinyatakan secara grafis dengan sumber tegak mewakili annual cost dan Q pada sumbu datar.

 

Penurunanpersamaan TC untukmenghasilkan nilai minimum didapatkan hasil :

Q=        Q = economic order quantity

Jika Q ditemukan maka waktu pemesanan dapat dihitung dengan rumus :

 

Jadi terjawab berapa dan kapan pemesanan harus dilakukan agar biaya yang dikeluarkan minimum.

F. KERANGKA BERFIKIR

Kerangka Berfikir

 G.  METODE PENELITIAN

  1. Data dan  Variabel Penelitian

Variabel penelitian yang dinilai dalam penelitian ini meliputi :

  1. K = ordering cost per pesanan
  2. A = jumlah barang yang dibutuhkan dalam satu periode( misal 1 tahun)
  3. C = Procurement cost per unit barang yang dipesan
  4. h = holding cost per satuan nilai persediaan.
  5. T = waktu antara satu pesanan dengan lainnya.
  6. Q = Economic order quantity (EOQ)

Menurut jenisnya maka data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder.

  1. Data Primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya, yaitu dengan melakukan wawancara terhadap perusahaan yang didatangi yang dijadikan sample tesis ini.
  2. Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari buku-buku literatur, jurnal, dokumen-dokumen, laporan dan lain lain.

 

  1. Metode Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini untuk mendapatkan data data yang diperlukan penulis menggunakan beberapa metode pengumpulan data sebagai berikut :

Studi Pustaka

Merupakan teknik pengumpulan data dengan cara mempelajari referensi berupa dokumen/berkas dan mengumpulkan data yang berkenaan dengan persediaan barang.

Observasi

Teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan langsung ke perusahaan yang menggunakan persediaan untuk memenuhi kebutuhan produknya.

Wawancara

Teknik pengumpulan data dengan percakapan langsung dengan tujuan-tujuan tertentu dengan menggunakan format tanya jawab.

 

  1. Metode Pengembangan Perangkat Lunak

Dalam  pengembangan perangkat lunak pada tesis ini menggunakan metode waterfall, yaitu sebuah metode pengembangan software yang bersifat sekuensial dan terdiri dari 5 tahap yang saling terkait dan mempengaruhi seperti terlihat pada gambar 6 berikut.

Pengembangan Software Metode Waterfall

Pengembangan Software Metode Waterfall

  1. Analisa kebutuhan. Merupakan tahap pertama yang menjadi dasar proses pembuatan software selanjutnya. Kelancaran proses pembuatan software secara keseluruhan dan kelengkapan fitur software yang dihasilkan sangat tergantung pada hasil analisa kebutuhan ini. Untuk memperoleh informasi tentang proses bisnis dan kebutuhan perusahaan, pada tahap ini  dilakukan wawancara, diskusi dan survey.
  2. Desain sistem. Merupakan tahap penyusunan proses, data, aliran proses dan hubungan antar data yang paling optimal untuk menjalankan proses bisnis dan memenuhi kebutuhan perusahaan sesuai dengan hasil analisa kebutuhan.
  3. Penulisan kode program. Merupakan tahap penerjemahan desain sistem yang telah dibuat ke dalam bentuk perintah-perintah yang dimengerti komputer dengan mempergunakan bahasa pemrograman, middleware dan database tertentu di atas platform yang menjadi standar perusahaan.
  4. Pengujian program. Pengujian software dilakukan untuk memastikan bahwa software yang dibuat telah sesuai dengan desainnya dan semua fungsi dapat dipergunakan dengan baik tanpa ada kesalahan.
  5. Penerapan program. Merupakan tahap dimana penerapkan software yang telah selesai dibuat dan diuji ke dalam lingkungan Teknologi Informasi perusahaan dan memberikan pelatihan kepada pengguna di perusahaan.

 

Teknik Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan mengunakan metode statistik deskriptif untuk  membandingkan pendekatan sistem dengan data.

 A.    JADWAL PENELITIAN

NO

Waktu

Bulan 1

Bulan 2

Kegiatan

1

2

3

4

1

2

3

4

1

Kebutuhan sistem

 x

x

 x

2

Design sistem x x x

3

Penulisan Kode Program x  x  x

4

Pengujian Program x

 x

5

Penerapan Program

x

 

 B.    DAFTAR PUSTAKA

 

  1. Andrew Caplin and John Leahy, “Economic Theory and the World of Practice: A Celebration of the (S,s) Model“, Journal of Economic Perspectives, Winter 2010, V 24, N 1
  2. Hamdy A. Taha, Operations Research: An Introduction, Prentice Hall; 9th. Edition, 2011
  3. Hansen, J. V., & Hill, N. C. (1989). Control and audit of electronic data interchange. MIS Quarterly, 403–413.
  4. Hax, AC and Candea, D. (1984), Production and Operations Management, Prentice-Hall, Englewood Cliffs, NJ, pp. 135

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


one + 4 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>